Abortus atau keguguran merupakan kondisi yang cukup umum terjadi pada masa kehamilan, terutama pada trimester pertama. Memahami klasifikasi abortus sangat penting, baik bagi tenaga medis maupun ibu hamil, agar dapat mengenali tanda-tanda, memberikan penanganan tepat, dan mencegah komplikasi yang tidak diinginkan. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap tentang klasifikasi abortus, jenis-jenisnya, penyebab, tanda-tanda, serta cara penanganannya dengan bahasa yang mudah dipahami.
Apa Itu Abortus?
Abortus adalah penghentian kehamilan secara spontan sebelum janin dapat bertahan hidup di luar rahim, biasanya sebelum usia kehamilan 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Keguguran ini bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti kelainan kromosom janin, infeksi, gangguan hormonal, atau kondisi kesehatan ibu.
Memahami klasifikasi abortus membantu dalam menentukan diagnosis yang tepat dan pengobatan yang sesuai. Berikut adalah klasifikasi abortus berdasarkan kondisi klinis dan proses terjadinya.
Klasifikasi Abortus Berdasarkan Proses Klinis
1. Abortus Iminens (Threatened Abortion)
Abortus iminen adalah kondisi di mana ibu mengalami tanda-tanda keguguran, seperti perdarahan ringan dari vagina dan kram perut, namun serviks masih tertutup dan janin masih hidup. Ini merupakan tanda awal yang menunjukkan keguguran mungkin terjadi, tapi belum pasti.
Contoh: Seorang ibu hamil usia 8 minggu mengalami bercak darah coklat dan kram ringan, namun pemeriksaan USG menunjukkan janin masih berdetak dan serviks tertutup. Kondisi ini disebut abortus iminen.
2. Abortus Incipiens (Aborsi yang Sedang Berlangsung)
Pada abortus incipiens, perdarahan lebih banyak dan serviks mulai membuka (dilatasi), menandakan bahwa tubuh mulai mengeluarkan janin. Jika tidak diatasi, proses keguguran akan berlanjut.
Contoh: Pada pemeriksaan, ibu dengan usia kehamilan 9 minggu datang dengan perdarahan berwarna merah yang cukup banyak, nyeri perut, dan serviks sudah mulai membuka. Ini menandakan abortus incipiens.
3. Abortus Komplettus (Keguguran Sempurna)
Ini adalah keguguran di mana seluruh jaringan janin dan plasenta telah keluar dari rahim, sehingga rahim bersih dan serviks tertutup kembali. Setelah abortus komplettus, perdarahan biasanya berhenti dan kram mereda.
Contoh: Setelah mengalami perdarahan dan kontraksi, seluruh isi rahim sudah keluar dan pemeriksaan menunjukkan rahim kosong, ini mengindikasikan abortus komplettus.
4. Abortus Inkomplettus (Keguguran Tidak Sempurna)
Abortus inkomplettus terjadi ketika hanya sebagian jaringan janin, plasenta, atau membran yang keluar, sehingga masih ada sisa jaringan tertinggal dalam rahim. Ini dapat menyebabkan perdarahan terus menerus dan risiko infeksi.
Contoh: Setelah mengalami keguguran spontan, seorang ibu masih mengalami perdarahan dan nyeri, serta USG menunjukkan ada sisa jaringan dalam rahim, maka diagnosis abortus inkomplettus.
5. Abortus Habitualis (Keguguran Berulang)
Abortus habitualis adalah kondisi ketika seorang wanita mengalami tiga kali atau lebih keguguran berturut-turut dengan usia kehamilan dibawah 20 minggu. Ini perlu evaluasi lebih lanjut untuk mencari penyebabnya.
Contoh: Seorang wanita telah mengalami keguguran pada usia 8 dan 10 minggu sebanyak tiga kali berturut-turut, maka ia didiagnosis dengan abortus habitualis.
Klasifikasi Abortus Berdasarkan Penyebab
1. Abortus Kuretase
Abortus kuretase biasanya dilakukan secara sengaja untuk mengakhiri kehamilan melalui tindakan medis, berbeda dengan abortus spontan. Namun, apabila tidak dilakukan dengan benar, bisa terjadi komplikasi seperti infeksi dan perdarahan hebat.
2. Abortus Spontan
Ini adalah keguguran yang terjadi secara alami tanpa intervensi medis. Sebagian besar abortus spontan terjadi akibat kelainan kromosom janin dan biasanya terjadi pada trimester pertama.
3. Abortus Septik
Abortus septik terjadi ketika keguguran disertai infeksi bakteri di rahim. Kondisi ini berbahaya dan memerlukan penanganan antibiotik serta pembersihan rahim.
Tanda dan Gejala Abortus yang Perlu Diwaspadai
Setiap wanita hamil sebaiknya mengenali tanda-tanda keguguran agar dapat segera berkonsultasi ke tenaga medis. Berikut adalah beberapa gejala umum abortus:
-
Perdarahan vagina berupa bercak atau darah merah segar
-
Nyeri atau kram perut bagian bawah, mirip saat menstruasi
-
Pecahnya cairan ketuban secara tiba-tiba
-
Keluarnya jaringan atau gumpalan dari vagina
-
Penurunan tanda-tanda kehamilan seperti mual, muntah, dan payudara membengkak
Cara Penanganan Abortus Sesuai Klasifikasinya
1. Abortus Iminens
Penanganan bertujuan untuk mempertahankan kehamilan. Dokter akan menyarankan istirahat total, menghindari aktivitas berat, dan mungkin pemberian obat untuk menenangkan rahim seperti progesteron. Pemantauan ketat dengan USG sangat penting.
2. Abortus Incipiens dan Inkomplettus
Pada tahap ini, biasanya dokter akan melakukan tindakan kuretase atau dilatasi dan kuretase (D&C) untuk mengeluarkan sisa jaringan yang ada agar mencegah perdarahan dan infeksi. Selain itu, pasien akan diberikan antibiotik bila perlu.
3. Abortus Komplettus
Tidak memerlukan tindakan khusus karena rahim sudah kosong. Pasien cukup dipantau hingga perdarahan berhenti dan kondisi membaik.
4. Abortus Habitualis
Perlu evaluasi menyeluruh untuk mencari penyebab keguguran berulang, seperti gangguan hormonal, kelainan imunologi, atau penyakit kronik pada ibu. Penanganan bisa berupa terapi hormonal, pengobatan spesifik, atau tindakan medis lain sesuai penyebabnya.
Cara Mencegah Abortus
Meskipun tidak semua keguguran bisa dicegah, beberapa langkah berikut dapat mengurangi risiko abortus:
-
Rutin kontrol kehamilan dan mengikuti saran dokter
-
Mengonsumsi asam folat dan nutrisi yang cukup sejak sebelum dan selama hamil
-
Menghindari konsumsi alkohol, rokok, dan obat-obatan terlarang
-
Menjaga kebersihan dan menghindari infeksi
-
Mengelola stres dengan baik dan menjaga kesehatan mental
-
Mengelola penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi dengan baik
FAQ tentang Klasifikasi Abortus
Apa perbedaan abortus inkomplettus dan abortus komplettus?
Abortus komplettus terjadi ketika seluruh jaringan janin dan plasenta telah keluar dari rahim sehingga rahim bersih, sedangkan abortus inkomplettus terjadi apabila masih ada sisa jaringan yang tertinggal dalam rahim, menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi. Wikipedia Bahasa Indonesia
Apakah abortus selalu disertai perdarahan?
Perdarahan adalah tanda umum abortus, tapi tidak semua keguguran diikuti perdarahan hebat. Beberapa kasus abortus iminen hanya menunjukkan bercak ringan. Namun, setiap perdarahan saat hamil perlu segera diperiksakan.
Bisakah kehamilan berlanjut setelah mengalami abortus iminen?
Bisa. Abortus iminen merupakan tanda risiko keguguran, namun dengan penanganan dan istirahat yang tepat, kehamilan masih bisa berlanjut dan janin tetap sehat.
Apa penyebab abortus habitualis?
Abortus habitualis bisa disebabkan oleh faktor genetik, kelainan anatomi rahim, gangguan hormonal, infeksi, atau masalah imunologi. Oleh karena itu, perlu evaluasi lengkap untuk menemukan penyebabnya.
Kapan harus segera ke dokter jika mengalami tanda abortus?
Segera ke dokter jika mengalami perdarahan cukup banyak, nyeri perut hebat, keluarnya jaringan dari vagina, atau tanda-tanda seperti demam dan lemas agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.